Senin s.d Jumat : 10.00 - 17.00

|

Sabtu & Minggu : Janji Temu / Online

Jl. Warung Jati Timur No. 27A, Kel. Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Rekomendasi Artikel

Jabal Uhud, Gunung Bersejarah yang Disebut Rasulullah sebagai Gunung Surga

Jabal Uhud menjadi salah satu destinasi ziarah yang hampir selalu dikunjungi jemaah haji dan umrah saat berada di Madinah, Arab Saudi. Gunung yang berada sekitar lima kilometer di utara Masjid Nabawi itu memiliki nilai sejarah sekaligus keutamaan dalam Islam karena disebut langsung oleh Rasulullah SAW dalam sejumlah hadis.


Selain dikenal sebagai lokasi terjadinya Perang Uhud, Jabal Uhud juga dijuluki sebagai "Gunung Surga" oleh umat Islam. Julukan tersebut berangkat dari sabda Rasulullah SAW yang menyebut gunung itu sebagai salah satu gunung yang ada di surga.


Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim disebutkan Rasulullah SAW bersabda:


"Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga." (HR Bukhari)


Keutamaan Jabal Uhud juga tergambar dari hadis lain yang diriwayatkan Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW menyampaikan kecintaannya kepada gunung tersebut.


"Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya." (HR Bukhari dan Muslim)


Riwayat lain menceritakan ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan menaiki Jabal Uhud. Saat itu gunung tersebut bergetar hingga Rasulullah SAW bersabda:


"Tenanglah, wahai Uhud. Di atasmu sekarang ada seorang nabi, seorang yang sangat membenarkannya, dan dua orang yang kelak mati syahid."


Setelah sabda tersebut diucapkan, Gunung Uhud disebut berhenti bergetar.


Saksi Salah Satu Perang Terbesar dalam Sejarah Islam

Selain memiliki keutamaan, Jabal Uhud menjadi lokasi berlangsungnya Perang Uhud pada 15 Syawal tahun ke-3 Hijriah atau sekitar Maret 625 M.


Mengutip buku 8 Pintu Surga karya Mohammad Monib, peperangan itu mempertemukan pasukan Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW dengan kaum Quraisy Makkah.


Pada awal pertempuran, kaum Muslim berhasil menguasai keadaan. Namun situasi berubah ketika sebagian pasukan pemanah yang ditempatkan di Bukit Rumat meninggalkan posnya karena mengira peperangan telah berakhir. Mereka turun untuk mengambil harta rampasan perang, meskipun sebelumnya Rasulullah SAW telah memerintahkan agar tetap bertahan di posisi masing-masing.


Kondisi tersebut dimanfaatkan pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menyerang dari arah belakang. Serangan itu membuat barisan kaum Muslim tercerai-berai dan menyebabkan banyak sahabat gugur.


Di antara para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW yang dikenal sebagai Asadullah atau Singa Allah. Ia gugur setelah ditombak oleh Wahsyi al-Habasyi yang dijanjikan kebebasan apabila berhasil membunuhnya.


Rasulullah SAW juga mengalami luka-luka dalam peperangan tersebut. Seusai perang, beliau memerintahkan agar para sahabat yang gugur dimakamkan di lokasi mereka syahid. Hingga kini, kompleks makam para syuhada masih berada di kawasan Jabal Uhud dan menjadi salah satu tujuan ziarah jemaah.


Menyimpan Pelajaran tentang Ketaatan

Perang Uhud menjadi salah satu peristiwa penting yang mengandung pelajaran bagi umat Islam. Kekalahan yang dialami kaum Muslim bukan disebabkan lemahnya kekuatan, melainkan karena sebagian pasukan tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap menjaga pos mereka.


Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan bagian penting dalam meraih keberhasilan, sementara mengabaikan amanah dapat membawa akibat yang besar.


Kompleks pemakaman di kawasan Jabal Uhud menjadi tempat dimakamkannya sekitar 70 sahabat yang gugur dalam Perang Uhud.


Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul, Ahmad Hawassy mengisahkan bahwa ketika banjir pernah melanda Madinah, sebagian jasad para syuhada disebut masih utuh dan mengeluarkan aroma harum setelah makam terdampak banjir.


Jenazah kemudian dimakamkan kembali seperti semula. Makam yang hingga kini dikenal antara lain makam Hamzah bin Abdul Muthalib RA dan Abdullah bin Jahsy RA karena keduanya dapat dikenali dari ciri-ciri fisik yang masih tampak.


Sampai sekarang, Jabal Uhud tetap menjadi salah satu lokasi ziarah yang ramai dikunjungi jemaah haji dan umrah sebagai pengingat atas perjuangan Rasulullah SAW, pengorbanan para sahabat, serta nilai ketaatan dalam menjalankan perintah Allah SWT.


SUMBER: HIMPUH