Senin s.d Jumat : 10.00 - 17.00

|

Sabtu & Minggu : Janji Temu / Online

Jl. Warung Jati Timur No. 27A, Kel. Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Rekomendasi Artikel

Lima Keistimewaan yang Allah Berikan Pada Umat Nabi Muhammad di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah tahunan bagi umat Islam. Di balik kewajiban puasa dan berbagai amal ibadah yang dianjurkan, terdapat keistimewaan besar yang Allah berikan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW. Keistimewaan ini menunjukkan betapa umat akhir zaman ini tetap dimuliakan, meski hidup paling dekat dengan hari kiamat.


Para ulama menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan sejumlah karunia istimewa kepada umat Nabi Muhammad di bulan Ramadhan—bahkan sebagian di antaranya tidak diberikan kepada umat nabi-nabi sebelumnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW.


Lima Pemberian Allah bagi Umat Nabi Muhammad di Bulan Ramadhan


Rasulullah SAW bersabda:


أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌ قَبْلِي: أَمَّا وَاحِدَةٌ، فَإِنَّهُ اِذَا كاَنَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا. وَأَمَّا الثَّانِيَةُ: فَإِنَّ خُلُوْفَ أَفْوَاهِهِمْ حِيْنَ يَمْسُوْنَ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. وَأَمَّا الثَّالِثَةُ: فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. وَأَمَّا الرَّابِعَةُ: فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَأْمُرُ جَنَّتَهُ فَيَقُوْلُ لَهَا اِسْتَعِدِّيْ وَتَزَيِّنِي لِعِبَادِيْ أَوْشَكَ أَنْ يَسْتَرِحُوْا مِنْ تَعْبِ الدُّنْيَا إِلَى دَارِيْ وَكَرَامَتِي. وَأَمَّا الخَامِسَةُ: فَإِذَا كاَنَ آخِرُ لَيْلَةٍ غَفَرَ اللهُ لَهُمْ جَمِيْعًا». فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: «لَا، أَلَمْ تَرَ إِلَى الْعُمَّالِ إِذَا فَرَغُوْا مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَفّوُا أُجُوْرَهُمْ».


Artinya:

“Telah diberikan kepada umatku di bulan Ramadhan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada nabi sebelumku. Pertama, ketika malam pertama Ramadhan tiba, Allah melihat mereka. Siapa yang dilihat oleh Allah, maka ia tidak akan disiksa selamanya. Kedua, bau mulut orang yang berpuasa di sore hari lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Ketiga, para malaikat memohonkan ampunan untuk mereka setiap siang dan malam. Keempat, Allah memerintahkan surga-Nya dan berfirman: ‘Bersiaplah dan berhiaslah untuk hamba-hamba-Ku, mereka akan beristirahat dari kelelahan dunia menuju rumah-Ku dan kemuliaan-Ku.’ Kelima, pada malam terakhir Ramadhan Allah mengampuni mereka semua.”


Seorang sahabat kemudian bertanya, “Apakah itu Lailatul Qadr wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak. Tidakkah kamu melihat para pekerja? Jika mereka telah menyelesaikan pekerjaannya, maka mereka akan menerima upahnya.” (HR. Al-Baihaqi)


Makna di Balik Lima Keistimewaan Ramadhan

Syekh Abil Fadl al-Ghumari dalam kitab Ghayatul Ihsan fi Fadli Syahri Romadhon menjelaskan makna dari hadis tersebut secara lebih mendalam.


Pemberian pertama menunjukkan bahwa Allah memandang umat Nabi Muhammad dengan pandangan penuh kasih dan rahmat pada awal Ramadhan. Siapa yang mendapatkan pandangan rahmat tersebut tidak akan disiksa karena limpahan rahmat Allah.


Pemberian kedua berkaitan dengan bau mulut orang yang berpuasa. Dalam pandangan manusia, bau tersebut mungkin tidak menyenangkan. Namun di sisi Allah, bau itu lebih harum daripada minyak misik (kasturi) karena merupakan tanda ketaatan dan pahala puasa.


Penjelasan ini bahkan melahirkan pandangan fikih tertentu. Imam Asy-Syafi’i memandang makruh melakukan siwak setelah matahari tergelincir (dzuhur) karena dapat menghilangkan bau mulut orang yang berpuasa yang justru memiliki keutamaan di sisi Allah.


Pemberian ketiga adalah doa para malaikat yang memohonkan ampunan bagi umat Nabi Muhammad siang dan malam. Hal ini, menurut penjelasan ulama, berkaitan dengan peristiwa ketika malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:


قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ


Artinya: 

“Mereka (para malaikat) berkata: Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” (QS. Al-Baqarah: 30)


Karena itu, para malaikat diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi umat Nabi Muhammad.

Pemberian keempat adalah persiapan surga yang dihiasi khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Surga seolah dipersiapkan untuk menyambut hamba-hamba Allah yang telah menahan diri dari berbagai kesulitan dunia selama menjalankan ibadah puasa.


Adapun pemberian kelima adalah ampunan Allah pada malam terakhir Ramadhan. Pada malam tersebut, umat Islam yang telah menjalani puasa dan ibadah sepanjang bulan Ramadhan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.


Dalam sejumlah keterangan, malam ini dikenal dengan istilah Lailatul Jaizah, yaitu malam ketika Allah memberikan “upah” bagi hamba-hamba-Nya setelah mereka menyelesaikan ibadah Ramadhan.


Karunia Lain di Bulan Ramadhan

Syekh Abil Fadl al-Ghumari juga menegaskan bahwa keistimewaan umat Nabi Muhammad di bulan Ramadhan tidak terbatas hanya pada lima hal tersebut. Masih banyak karunia lain yang Allah berikan.


Salah satunya adalah pembebasan dari api neraka setiap kali waktu berbuka puasa. Rasulullah SAW bersabda:


لِلهِ عِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ عِتْقَاءُ


Artinya: 

“Bagi Allah pada setiap waktu berbuka puasa terdapat orang-orang yang dibebaskan dari api neraka.” (HR. Al-Baihaqi)


Namun, ada syarat penting untuk mendapatkan keutamaan tersebut, yaitu tidak berbuka dengan sesuatu yang haram. Jika seseorang berbuka dengan makanan yang haram, maka ia tidak memperoleh jaminan keselamatan dari neraka tersebut.


Selain itu, Ramadhan juga menjadi waktu ketika pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.


Tidak hanya itu, doa orang yang berpuasa juga memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda:


اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ مَا تُرَدُّ

Artinya: 

“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka.” (HR. Al-Baihaqi)


Semua keutamaan ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan besar bagi umat Nabi Muhammad untuk meraih rahmat, ampunan, dan kemuliaan dari Allah SWT.


SUMBER : HIMPUH