Senin s.d Jumat : 10.00 - 17.00
|Sabtu & Minggu : Janji Temu / Online
Jl. Warung Jati Timur No. 27A, Kel. Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Rekomendasi Artikel
Di antara malam-malam yang paling dinantikan umat Islam pada bulan Ramadan adalah Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam yang penuh kemuliaan, bahkan disebut lebih baik daripada seribu bulan. Keistimewaan tersebut dijelaskan secara khusus dalam Surat Al-Qadr ayat 1–5, yang menggambarkan betapa agungnya malam tersebut dalam pandangan Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadr. Dan tahukan kamu apa malam Qadr itu? (yaitu) malam Qadr itu lebih baik dari malam seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.”
Ayat-ayat tersebut menjadi dasar utama bagi umat Islam untuk memahami keagungan malam Lailatul Qadar.
Malam Turunnya Al-Qur’an
Secara kebahasaan, kata inzāl (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ) dalam ayat pertama oleh sebagian ulama dimaknai sebagai proses turunnya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Bayt al-‘Izzah di langit dunia. Setelah itu, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun sesuai dengan peristiwa yang terjadi.
Karena menjadi malam turunnya kitab suci Al-Qur’an, Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Kemuliaan Al-Qur’an inilah yang menjadikan malam tersebut begitu agung di sisi Allah.
Tidak hanya itu, peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut juga menjadi salah satu sebab mengapa bulan Ramadan memiliki kedudukan sebagai bulan yang paling mulia dalam kalender Islam.
Makna “Al-Qadr” sebagai Kemuliaan
Secara terminologi, kata Al-Qadr memiliki beragam makna. Menurut Ibnu Mukarram, Al-Qadr berarti keputusan yang ditetapkan oleh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi serta diberlakukan terhadap seluruh perkara.
Dalam Al-Qur’an, kata Al-Qadr dapat memiliki beberapa arti, seperti membatasi, menentukan, mengagumkan, menguasai, hingga mengukur.
Namun dalam konteks Surat Al-Qadr, kata tersebut dipahami sebagai kemuliaan. Karena itu, Lailatul Qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan.
Kemuliaan itu terkait erat dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia sebagaimana disebutkan dalam ayat pertama.
Lebih Baik dari Seribu Bulan
Keutamaan lain dari Lailatul Qadar dijelaskan dalam ayat ketiga:
“Malam Qadr itu lebih baik dari malam seribu bulan.”
Ibnu Jarir At-Thabari menjelaskan bahwa pahala beribadah pada malam tersebut lebih utama dibandingkan dengan ibadah pada malam-malam lain yang tidak bertepatan dengan Lailatul Qadar.
Artinya, amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Karena itu, malam tersebut menjadi kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah.
Namun makna “lebih baik dari seribu bulan” bukan berarti seseorang harus mengabaikan ibadah pada malam-malam lainnya.
Sebaliknya, ayat ini menunjukkan betapa besar karunia Allah kepada hamba-Nya dengan memberikan satu malam yang nilainya melebihi ribuan bulan ibadah.
Turunnya Malaikat ke Bumi
Keagungan Lailatul Qadar semakin ditegaskan pada ayat keempat:
Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar, malaikat-malaikat turun ke bumi dengan izin Allah. Kata ar-Ruuh dalam ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai malaikat Jibril.
Bersama para malaikat lainnya, Jibril turun untuk melaksanakan berbagai urusan yang telah ditetapkan oleh Allah.
Pada malam itu, doa-doa para malaikat menyertai doa-doa manusia yang sedang beribadah.
Karena itu, tidak mengherankan jika umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut, seperti salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Malam yang Penuh Kedamaian
Keistimewaan Lailatul Qadar ditutup dengan ayat kelima:
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata as-Salām dalam ayat tersebut bermakna kesejahteraan, kedamaian, dan keselamatan dalam segala urusan.
Keadaan penuh kedamaian itu berlangsung sepanjang malam hingga terbitnya fajar.
Dalam Tafsir Al-Misbah, dijelaskan bahwa kemuliaan malam tersebut akan benar-benar dirasakan ketika muncul kesadaran dalam hati manusia sebagai hasil dari ibadah dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Kesadaran spiritual itu kemudian melahirkan ketenangan dan kedamaian dalam hati seseorang.
Karena itulah, Lailatul Qadar menjadi malam yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia—malam ketika langit dan bumi dipenuhi keberkahan, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, dan hati manusia semakin dekat kepada Allah SWT.
SUMBER : HIMPUH